Search

CEO TALKS BEYOND THEORY “The Disaster of Insurance Industry: How to manage the risk”


Tanggal 22 Januari 2020 telah berlangsung kegiatan CEO Talks seri Ke-6 dengan tema “The Disaster of Insurance industry” oleh ILUNI MMUI di Studio 1 XXI Lotte Shoping Avenue, Kuningan. Dalam kegiatan ini dihadirkan tiga pembicara, yakni Herris B Simanjuntak yang merupakan Former CEO of Jiwasraya, Hotbonar Sinaga, SE, CIID, CLU, ChFC, CERG Mantan Dirut Jamsostek sekaligus Ketua STIMRA, dan Alberto Daniel Hanani Direktur Utama Asuransi Sarana Lindung Upaya sekaligus Dosen MMUI. acara ini dipandu oleh Mohammad Mustaqim yang merupakan Sekjen ILUNI MMUI sebagai moderator. Sebanyak 225 peserta yang tergabung atas Mahasiswa beserta profesional menghadiri acara ini.


Selama kegiatan seminar berlangsung, ketiga pembicara ini saling berbagi informasi seputar bencana-bencana yang mungkin terjadi pada industri asuransi berikut penanganan yang mungkin bisa dilakukan sebagai langkah pencegahan.


Dalam pemaparannya, Hotbonar Sinaga, SE, CIIB, CLU, ChFC, CERG, Mantan Dirut Jamsostek sekaligus Ketua STIMRA menyampaikan perihal kronologi gagal bayar Jiwasraya. Kondisi gagal bayar ini dimulai dari Insolvabilitas atau Risk Based Capital kurang dari 120%, nilai ekuitas yang negatif, likuitidas yang tidak mencukupi, serta meningkatnya potensi rugi pada investasi. Adapun penyebab gagal bayar ini disebabkan oleh Kesalahan Desain Produk, Mis Investasi, Kecurangan, Tidak menerapkan prinsip GRC serta Lemahnya pengawasan.

“Berkaca dari permasalahan ini, ada dua solusi jangka panjang maupun pendek. Adapun solusi Jangka Pendek dilakukan dengan cara restrukturisasi, Penerapan GRC, Asuransi pesangon (PSAK 24), Asuransi Kecelakaan Non Occupational, Pinjaman Subordinasi dengan DPLC dan Recovery Assets. Kemudian untuk solusi jangka panjang dilakukan dengan cara Amandemen terhadap UU Lembaga Penjamin Simpanan, Resistensi dari LPS, Regulasi, Supervisi, dan Proses Bisnis.” Jelasnya


Selanjutnya Direktur Utama Asuransi Sarana Lindung Upaya, Alberto Daniel Hanani, menjelaskan bahwa perlu dilakukan reformasi industri sebagai upaya penguatan peraturan governance perusahaan dan manajemen risiko untuk memastikan pimpinan perusahaan berperilaku rasional serta memiliki moral.


“Karena pada dasarnya manusia memiliki masalah oportunistik yang rasionalitasnya terbatas (bounded), oleh sebab itu perlu dilakukan check and balance berlapis. Adapun langkah yang perlu dilakukan adalah dengan cara membuat aturan yang lebih jelas dan transparan, memastikan bahwa aturan tersebut dipatuhi, mekanisme pengawasan berlapis yang dilakukan mulai dari audit internal perusahaan, manajemen risiko oleh dewan komisaris, pelaporan dan pemeriksaan rutin oleh regulator, melakukan tindak koreksi tepat waktu sesuia dengan hasil compliance assesment dan seterusnya.” Pungkasnya.


Dilain pihak, Herris B. Simanjuntak, Former CEO of Jiwasraya Director menyampaikan berita buruk dalam kurun waktu 2018 sampai dengan 2019 terhadap perusahaan asuransi. Berita-berita ini antara lain adalah kasus AJB Bumiputrea, Jiwasraya, Pembatasan Kegiatan Usahan PT Asuransi Himalaya Pelindung, kasus Asabri dan lainnya.Kasus-kasus tersebut tidak lain menjadi permasalahan yang membuat semua pihak harus saling berbenah.


“Untuk mengatasi semua permasalahan di bidang asuransi ini perlu adananya Management Risk. Management Risk ini penting untuk dilaksanakan bukan hanya sekedar pemenuhan terhadap Undang-undang yang berlaku saja, namun juga sebagai instrument untuk merencanakan dan menerapkan metode mitigasi risiko yang terstruktur. Hal ini dilakukan dalam rangka menjaga kesehatan keuangan perusahaan serta mencapai tujuan perusahaan” Jelas Herris.


FOLLOW US 
  • Facebook
  • Instagram
@2020 IKATAN ALUMNI MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS INDONESIA